Dear penjaga terhebat ku, ayah.
Semalam kita bertengkar. Aku cuek padamu. Kau pun takut untuk menghampiriku. Sepanjang malam ku renungkan sikapku itu, maafkan aku.
Aku sadar itu kau lakukan untuk melindungiku. Aku hanya tak ingin ada salah paham nantinya antara aku, dia, dan engkau.
Aku tau niat mu baik. Mama bercerita tentang kisah mu dulu bagaimana tingkahmu memperjuangkan mama.
Tadi pagi saat bangun . Saat aku menuju ruang tengah, ku dengar suara pintu yang terbuka dari belakangku. Kau baru saja bangun. Dengan mata sembab kau menghampiriku dan merangkul ku ke dalam pelukan mu yang begitu hangat. Dengan aroma tubuh mu yang khas, dengan tulusnya kasih mu, aku merasakan nafasmu yang tersenggal di leherku. Sesuatu membasahi bahuku. Kau menangis. “maafkan among.. itu ku lakukan agar kau tak tersakiti lagi”.
Sebuah tikaman hebat yang menyambar ku secara dahsyat. Segera ku peluk erat tubuhmu. Seolah kembali menjadi gadis kecil mu yang dulu aku mulai cengeng lagi.
“Maafkan aku mong” hanya itu yang keluar dari bibirku.
Aku sangat malu pada diriku. Kau mengajakku duduk di ruang tengah dengan mama. Kau menjelaskan niat mu dan aku mengerti. Terima kasih pahlawanku.
Aku sangat terkejut saat tau kau melakukannya kar’na kau mengerti aku bahagia dengannya.
Kau ingin agar aku tak lagi dengan yang lain selain dia.
Terima kasih karena mengijinkan aku untuk mengisi waktu dengannya.
Terima kasih karena kepercayaan mu. Kepercayaan mu ini pasti ku jaga. Aku akan membuat mu bangga. Percayalah aku masih putrimu, aku juga milik mu! Tenanglah amongku sayang, aku juga sangat menyayangi mu. Engkau juga sangat berarti untukku.
surat untuk pelitaku, ayah
21.22 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
















0 komentar:
Posting Komentar